Landscape dan Gardening

 Home  Hubungi Kami  English Version  Site Map
 
 

 Bookmark

Jual Pohon Pulai

 

Pulai adalah nama pohon dengan nama botani Alstonia scholaris. Pohon ini dari jenis tanaman keras yang hidup di pulau Jawa dan Sumatra. Dikenal juga dengan nama lokal pule, kayu gabus, lame, lamo dan jelutung. Kualitas kayunya tidak terlalu keras dan kurang disukai untuk bahan bangunan karena kayunya mudah melengkung jika lembap, tapi banyak digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga dari kayu dan ukiran serta patung. Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat, berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan dan lain-lain. Banyak juga yang menganggap pohon pulai untuk menolak unsur jahat dalam rumah atau pekarangan, kadang digunakan untuk mengobati kesurupan. 

 

Dalam taksonomi tumbuhan, pulai dikenal dengan nama Alstonia spp. Menurut ahli botani ada enam species dari genus Alstonia yang memiliki nama pulai, yaitu : A. angustifolia Wall., A. angustiloba Miq., A. macrophylla Wall., A. pneumatophora Backer, A. scholaris (L.) R. Br. dan A. spathulata Blume. Dari keenam jenis tersebut yang terkenal adalah A. scholaris (L.) R.Br. karena jenis ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

 

Di Jawa, pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai bisa mencapai tinggi 49 m, juga terdapat diseluruh nusantara. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Memiliki batang yang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu dan percabangannya menggarpu. Kulit batang pulai rapuh, rasanya sangat pahit dan bergetah putih. Pulai memiliki daun berjenis tunggal, tersusun melingkar 4 – 9 helai, memiliki tangkai yang panjangnya 7,5 – 15 mm, bentuknya lonjong, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepinya rata, pertulangan daun menyirip, panjang 10 – 23 cm, lebar 3 – 7,5 cm, dengan warna hijau.  

Perbungaan majemuk pulai tersusun bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Memiliki bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan serta berambut halus yang rapat. Buah pulai berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 – 50 cm menggantung. Biji kecil pulai memiliki panjang 1,5 – 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Pembudidayaan pulai dengan menggunakan biji atau setek batang dan cabang.   

  

Pulai yang paling terkenal saat ini adalah pulai pandak yang terdapat menyebar mulai dari India, Srilanka, Bangledesh dan seluruh kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sebaran tanaman pule pandak di Indonesia, terutama terkonsentrasi di pulau Jawa. Sama dengan ginseng, purwoceng dan pasak bumi, bagian tanaman pulai pandak yang dimanfaatkan adalah akarnya. Kalau akar ginseng dan purwoceng membentuk umbi, maka akar pulai pandak hanya melingkar-lingkar seperti ular. Sifat akar pulai pandak ini juga berlainan dengan akar pasak bumi yang lurus masuk ke dalam tanah seperti "pasak" yang ditancapkan ke "bumi". Akar pulai pandak berwarna merah mencolok. Akar yang tertinggal di dalam tanah karena tanamannya dicabut, terbakar atau terputus oleh cangkul, akan menumbuhkan individu tanaman baru. Hingga pulai pandak bisa diperbanyak dengan stek akar maupun dengan biji. Oleh masyarakat tradisional, akar pulai pandak sering dimanfaatkan untuk menawarkan bisa (antidote) akibat gigitan ular dan serangga serta obat penenang (sedative). Selain sebagai penawar bisa dan penenang, pulai pandak juga berkhasiat melancarkan peredaran  darah. Pulai pandak Rauwolfia Serpentina yang kandungan zat aktif dalam akarnya mirip dengan ginseng Korea.   

  

Budidaya pulai pandak bisa dilakukan dengan biji maupun stek akar. Budidaya dengan stek akar sebenarnya lebih menguntungkan, karena ketika tanaman digali dan dicabut, pasti banyak akar kecil-kecil yang tidak terpakai. Akar ini bisa disemaikan untuk memperoleh individu tanaman baru. Budidaya dengan biji juga mudah dilakukan, sebab pulai pandak sudah mulai berbunga dan mengeluarkan biji pada umur satu tahun semenjak ditanam. Sifat pulai pandak ini mirip dengan tanaman buah Makassar (Brucea javanica) yang juga mampu berbuah pada umur satu tahun semenjak tanam. Bunga pulai pandak akan muncul di pucuk tanaman berupa malai kecil. Bunga Rauwolfia serpentina lebih kecil dibanding bunga Rauwolfia verticillata. Bunga ini akan berubah menjadi buah setelah terserbuki. Tiap buah pule pandak hanya mengandung satu biji. Biji dari buah yang telah tua harus segera disemai di dalam pot atau polybag dengan media tanah yang gembur.   

   

Panen pulai pandak antara umur 3 sd. 5 tahun ini masih lebih cepat dibandingkan panen ginseng Korea (Panax ginseng), yang baru bisa dilakukan antara umur 6 sd. 10 tahun. Akar pulai pandak yang sudah dipanen, biasanya dicuci bersih, dipotong dengan ukuran antara 5 sd. 10 cm kemudian dikeringkan dengan penjemuran sampai benar-benar kering. Karena panen pulai pandak biasanya dilakukan pada musim kemarau, maka pengeringan dengan penjemuran ini tidak akan bermasalah. Saat ini penghasil akar pulai pandak utama dunia adalah Thailand. Sebenarnya, budidaya pulai pandak bukan hanya berpeluang ekonomis untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, melainkan juga untuk ekspor. Sebab meskipun reserpine yang terkandung dalam pulai pandak sudah bisa dibuat sintetisnya, namun kualitas reserpine asli dari pulai pandak tetap lebih baik. Salah satu khasiat ekstrak pulai pandak yang saat ini menonjol adalah sebagai obat penenang (Tranquillizer), terutama pada penderita stres berat dan sangat bermanfaat untuk peneduhan karena tipe pohon yang cepat tumbuh dan berdaun lebat.  

  

  

Manfaat Pohon Pulai:  

  

1. Tanaman Obat  

Sebagian besar dari pohon pulai memiliki khasiat untuk obat yang tidak hanya dipercaya oleh nenek moyang bangsa Indonesia tetapi berlaku secara internasional (terutama negara-negara di Asia). Riset secara medis juga sudah dilakukan oleh banyak lembaga. 

 

 

2. Tanaman Hias.   

Pulai gading (Alstonia scholaris) memiliki bentuk daun mirip Kamboja dan memiliki bunga warna kuning yang indah. Banyak di jumpai jalan protokol Ibukota, beberapa tempat perbelanjaan dan hotel mewah. 

  

3. Tanaman Industri  

Pulai termasuk tanaman banyak manfaat ke perekonomian tinggi, memiliki prospek karena banyak memiliki kegunaan dan permintaannya cukup tinggi. Kegunaan kayu pulai dalam industri antara lain untuk:  

·    Pembuatan peti, korek api, hak sepatu / kelom, kerajinan (topeng, patung, golek, cenderamata dll), cetakan beton, batu tulis pensil, dan bubur.  

Beberapa industri yang menggunakan kayu pulai sebagai bahan baku di antaranya industri pensil slate di Sumatera Selatan, industri kerajinan di Yogyakarta, dan usaha atau kegiatan ritual di Bali.  

Karakteristik dari tanaman pulai yang mendukung untuk Industri antara lain:   

Pulai darat memiliki batang yang lurus memiliki pertumbuhan cepat, pertumbuhan diameter bisa mencapai 3,5 cm / tahun dan pertumbuhan tinggi 1,5 m / tahun sehingga bisa dipanen dalam 10-12 tahun. Diameter 30-40 cm dan volume yang sekitar 260 m kubik memungkinkan untuk dikombinasikan dengan tanaman lain (tumpang sari) kayunya mudah diolah (digergaji, diserut, diukir, dibor). Wajar pulai menjadi incaran para perajin kayu dan pengusaha furnitur. Selain itu kayunya memiliki karakteristik ringan tapi cukup kuat dan awet. 

  

4. Tanaman Konservasi.   

Untuk kondisi Indonesia kini, prioritas konservasi lahan kritis diberikan untuk dana marjinal. Ada banyak faktor yang menjadi nilai tambah pohon pulai sebagai tanaman konservasi, antara lain:  

·   Termasuk tanaman perintis yang bisa tumbuh di mana saja. 

·   Termasuk tanaman adat dan cepat tumbuh serta memiliki sebaran di hampir seluruh wilayah Indonesia.  

·   Kemampuannya menyimpan udara, tanaman lain yang lebih populer mengemban fungsi inisial adalah beringin.  

·   Mendukung konservasi hewan karena disukai oleh beberapa hewan endemik seperti badak. 

  

5. Khasiat dan kandungan KIMIA.   

Pohon pulai mengandung banyak getah berwarna putih, rasa getahnya sangat pahit. Rasa pahit itu didapatkan pula dari akar, kulit batang dan daunnya. Bagian pohon pulai terdapat bahan alkaloida berupa ditamine, ditaine, dan echi-kaoetchine. Kulit batang terdapat kandungan saponin, flavonoida, dan polifenol. Sedangkan untuk zat pahitnya terdapat kandungan echeretine dan echicherine.  

   

Budidaya tanaman pulai sangat menguntungkan. Tanaman pulai mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan bekhasiat untuk pengobatan tradisional. Tanaman ini tidak sulit pemeliharaannya. Sangat cocok untuk ditanam sepanjang jalan sebagai peneduh jalan, sepanjang daerah aliran sungai sebagai penahan erosi, tanah rawa-rawa yang bergambut sebagai pemanfaatan lahan tidur, lahan perkebunan karet yang kurang produktif sebagai tanaman selingan dan pada hutan muda sebagai pertanian pola polikultur.  

  

Usaha atau kegiatan yang menyerap keuntungan dari budidaya tanaman pulai antara lain:  

  • Industri pensil slate  
  • Industri Pulp  
  • Industri korek api  
  • Industri kerajinan  
  • Industri sepatu / kelom  
  • Industri furniture  
  • Industri peti dan cetakan beton  
  • Industri audio (woofer sub, salon dll)  
  • Industri farmasi (fitofarmaka)  

 


  

 ↑ Back to Top